Hidup Sehat

Mengenal Mumifikasi, Proses yang Dilakukan untuk Mengawetkan Jenazah

Pernahkah Anda menyaksikan film tentang mumi dengan latar belakang di Mesir? Bila pernah, Anda mungkin sudah familiar dengan mumi. Tidak hanya dalam film, mumi memang benar-benar ada dan dibentuk melalui proses mumifikasi.

Mengenal Mumifikasi, Proses yang Dilakukan untuk Mengawetkan Jenazah

Mumifikasi adalah proses yang dilakukan untuk mengawetkan jenazah orang mati. Di beberapa negara, proses ini dipercaya sebagai bagian dari tradisi dan kepercayaan untuk melanjutkan ke kehidupan setelah kematian.

Alasan dilakukannya proses mumifikasi

Banyak orang beranggapan bahwa mumi dan mumifikasi adalah proses yang mengerikan. Karena itulah, mumi sering menjadi bagian dari film-film horor dan dekorasi untuk ruangan bertema horor.

Namun, mumifikasi sebenarnya merupakan bagian dari tradisi yang sangat dihormati tidak hanya oleh penduduk di negara Mesir, tapi oleh banyak kelompok masyarakat di seluruh dunia, seperti di negara Cina, Amerika Selatan, dan lain sebagainya. 

Tradisi mengawetkan jenazah orang mati dipandang sebagai tradisi untuk mencapai kehidupan setelah kematian. Mereka percaya, mumifikasi membantu dalam mencapai akhirat, karena hal ini hanya bisa dilakukan apabila jenazah masih utuh dan bentuk tubuhnya masih dapat dikenali.

Karena kepercayaan inilah, banyak orang rela meluangkan waktu dan biaya untuk mengawetkan orang mati. Orang-orang yang percaya dengan tradisi ini biasanya akan mempersiapkan kubur mereka bahkan jauh sebelum menjelang kematian. 

Proses mumifikasi

Secara garis besar, proses mumifikasi berlangsung selama 70 hari. Akan ada pemimpin agama yang secara khusus merawat jenazah orang mati, mulai dari mengoleskan kandungan yang diperlukan untuk proses pengawetan, sampai dengan membungkus tubuh jenazah.

  • Tahap pengangkatan organ

Sebelumnya, jenazah akan terlebih dahulu dibersihkan dengan membuang organ-organ internal yang mudah membusuk. Akan dimasukan alat khusus melalui lubang hidung untuk mengangkat jaringan-jaringan otak. 

Kemudian, organ perut dan dada akan dibuang melalui sayatan kecil yang dibuat di sisi kiri perut. Di antara organ yang ada di area tubuh, hanya akan disisakan organ hati karena hati dianggap sebagai keberadaan dan kecerdasan seseorang.

Setelah organ-orang dikeluarkan, organ-organ tersebut akan diawetkan secara terpisah. Lambung, hati, dan paru-paru ditempatkan dalam kotak khusus yang disebut juga dengan guci kanopik. Nantinya, guci tersebut akan dikubur bersama dengan mumi. 

Akan tetapi, di beberapa daerah, organ tidak diawetkan di tempat terpisah. Organ-organ yang telah dikeluarkan akan digantikan dengan organ buatan yang kemudian dimasukkan kembali ke dalam tubuh jenazah. Namun, guci akan tetap digunakan sebagai bagian dari ritual untuk penguburan.

  • Tahap pembungkusan

Setelah semua organ diangkat dan diawetkan, pemimpin agama akan melanjutkan ke tahap pembungkusan. Pembungkusan menggunakan kain linen panjang dan dilakukan secara hati-hati. Setiap jenazah membutuhkan setidaknya ratusan meter sprei kain linen untuk membungkus.

Sebelum membungkus tangan atau kaki, biasanya jari tangan dan jari kaki akan dibungkus satu persatu secara terpisah terlebih dahulu.

Menurut kepercayaan, jenazah perlu dilindungi dari kecelakaan dengan menempatkan jimat di antara kain-kain pembungkus. Sebelum kepala diperban, akan ditempatkan juga topeng khusus. 

Dalam beberapa tahap, kain yang melapisi jenazah akan dioleskan dengan resin hangat. Jika semua bagian jenazah telah dibungkus, akan ditempatkan kain kafan sebagai langkah terakhir.

Setelah itu, tinggal dilakukan ritual khusus sebelum mumi siap untuk dimakamkan. 

Meski terkesan menyeramkan dan membutuhkan proses yang panjang, mumifikasi dipercaya sebagai bagian dari tradisi yang sangat dihormati. Karena itu, meskipun Indonesia tidak familiar dengan proses ini, proses ini tetap populer dan banyak dilakukan oleh masyarakat di negara-negara lain.