Pemeriksaan, rumah sakit & faskes

3 Indera Utama yang Distimulasi pada Terapi Sensori Integrasi, Apa Saja?

Terapi sensori integrasi (SI) merupakan salah satu terapi okupasi dan juga treatment yang diberikan pada anak berkebutuhan khusus. Terapi ini juga menjadi cara sebagai upaya perbaikan gangguan perkembangan atau gangguan belajar, gangguan interaksi sosial, ataupun perilaku lainnya. 

Jadi, terapi okupasi ini merupakan proses mengenal, membedakan sensasi, mengubah dari sistem sensori untuk menghasilkan respon berupa perilaku adaptif yang bertujuan. 

3 Indera Utama yang Diberikan Stimulasi pada Terapi Sensori Integrasi

Ada tiga indera utama yang diberikan stimulasi saat terapi sensori integrasi ini, yaitu taktil, proprioseptif, dan vestibular. Tentu saja ketiga sistem sensori ini agak asing bagi Anda. Akan tetapi, sistem ini juga tak kalah pentingnya dengan indera lain seperti penglihatan, pendengaran, dan lainnya. Ketiga sistem sensori ini membantu interpretasi dan respon anak terhadap lingkungan.

  1. Sistem Taktil
    Sistem taktil ini adalah sensori terbesar yang dibentuk oleh reseptor yang ada di kulit. Sistem sensori ini akan mengirimkan informasi terkait rangsangan cahaya, nyeri, sentuhan, suhu, dan tekanan, yang dikirimkan ke otak.
    Sistem ini terdiri dari 2 komponen, protektif dan diskriminatif. Kedua komponen ini saling bekerja sama melakukan tugas dan fungsi sehari-hari. Hipersensitif terhadap stimulasi bisa menyebabkan mispersepsi terhadap sentuhan, bisa berupa respon menarik diri ketika disentuh, menolak makanan tertentu, menghindari kelompok orang, bahkan memegang benda tertentu menggunakan ujung-ujung jari.
    Ada juga bentuk lain dari disfungsi sistem taktil ini, yaitu perilaku irritable atau mengisolasi diri. Hiposensitif terhadap stimulasi bisa pula menyebabkan reaksi kurang sensitif terhadap nyeri, suhu, perabaan suatu objek, dan sebagainya. Sehingga, anak akan mencari stimulasi lain yang lebih “berasa” seperti misalnya menabrak orang, menabrak mainan, perabotan, bahkan menggigit atau mengunyah benda. Dan tentu saja ini sangat membahayakan.
  2. Sistem Vestibular
    Jika sistem taktil terletak di kulit, maka sistem vestibular ini terletak di telinga dalam. Sistem ini mendeteksi gerakan dan perubahan posisi kepala. Sistem vestibular ini adalah dasar dari tonus otot, koordinasi bilateral, dan keseimbangan. Anak yang hipersensitif terhadap sistem vestibular ini bisa ditandai dengan adanya respon seperti anak takut atau lari dari orang lain, anak takut terhadap berbagai gerakan sederhana, terhadap peralatan bermain di tanah, atau saat berada dalam mobil.
  3. Sistem Proprioseptif
    Sedangkan sistem proprioseptif terletak di serabut otot, ligamen, dan tendon yang membuat seseorang mengetahui gerakan dan posisi tubuh secara tidak sadar. Misalnya gerakan motorik halus seperti menulis, mengangkat sendok, mengancingkan baju, dan sebagainya.
    Jika terjadi hipersensitif terhadap sistem proprioseptif ini, maka akan membuat kemampuan respons dari setiap gerakan dan tingkat kewaspadaan relatif rendah. Seperti misalnya postur tubuh aneh, cenderung untuk jatuh, clumsiness, makan berantakan, dan sebagainya. Sedangkan bila terjadi hiposensitif terhadap sistem proprioseptif, akan membuat seorang anak bisa dengan mudah melakukan hal-hal seperti menggigit, membentukan kepala, atau pun suka menabrak benda.

Kondisi yang Membutuhkan Terapi Sensori Integrasi

Terapi sensori integrasi ini berguna bagi anak yang mengalami retardasi mental ringan, gangguan proses sensori, dan autisme. Meskipun menurut beberapa literatur disebutkan bahwa efektivitas terapi sensori integrasi ini tidak lebih baik dibanding terapi alternatif. Namun, efektivitasnya disebut memuaskan pada anak-anak yang mengalami retardasi mental ringan dan Autism spectrum disorder. 

Menurut penelitian juga disebut bahwa terapi sensori integrasi juga efektif pada anak yang mengalami ADHD dalam mengurangi kesulitan pada gangguan sensory motor disorder.

Pemeriksaan

Manfaat Pemeriksaan Flow Cytometry

Flow cytometry adalah suatu pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk mendeteksi, menentukan dan menghitung sel apapun, seperti sel darah atau sumsum tulang belakang secara spesifik. Metode pemeriksaan ini membantu dokter dalam melakukan klasifikasi jenis sel sehingga rencana pengobatan untuk penyakit pasien dapat ditentukan. Pemeriksaan yang menggunakan alat khusus bernama flow cytometer ini akan mengukur jumlah, persentase, dan karakteristik seperti ukuran, bentuk, dan ada atau tidaknya penanda sel bernama biomarker pada permukaan sel. Flow cytometry biasanya dilakukan untuk mendiagnosis kanker dan memeriksa kondisi kesehatan setelah transplantasi organ.

Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan medis, seperti:

  • Menghitung jumlah sel CD4 di dalam darah penderita HIV

Pada keperluan ini, sampel yang digunakan adalah sampel darah. Dengan menentukan jumlah sel CD4 dalam darah, dokter dapat menentukan seberapa sehat sistem kekebalan tubuh seseorang dan mendeteksi kerusakan yang disebabkan oleh virus.

  • Menghitung jumlah sel retikulosit (sel darah merah muda)

Sampel yang digunakan adalah sumsum tulang belakang. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan penyebab dari anemua dan memeriksa kondisi sumsum tulang belakang setelah tranplantasi atau kemoterapi.

  • Tes histocompatibility (HLA) sebelum transplantasi organ

Darah pendonor dan pemerima organ akan diperiksa untuk menilai kecocokan sebelum transplantasi organ dilakukan.

  • Memeriksa jumlah sel sperma dalam air mani

Sampel air mani yang diambil akan diperiksa lebih lanjut sebagai peninjauan ulang paska tindakan vasektomi atau sebagai bagian untuk memeriksa kesuburan.

  • Diagnosis dan klasifikasi leukemia atau limfoma

Sampel darah, sumsum tulang belakang, atau jaringan lainnya dapat digunakan sebagai sampel.

  • Melihat kondisi sel platelet dalam darah

Sel platelet adalah sel yang berperan dalam proses pembekuan darah untuk keperluan ini, sampel yang digunakan adalah darah pasien.

Pemeriksaan ini digunakan untuk mengidentifikasi berbagai jenis tipe sel yang khas sebagai penanda penyakit tertentu. Flow cytometry paling sering digunakan untuk mendiagnosis kanker darah seperti leukemia dan limfoma.

Pada pemeriksaan ini, dokter akan menggunakan antibodi yang telah diberi zat pewarna khusus untuk mendeteksi adanya komponen sel yang dapat ditemukan pada berbagai jenis kanker. Dengan flow cytometry, dokter dapat menentukan diagnosis, pengobatan, dan kondisi pasien di masa depan.

Flow cytometry paling bermanfaat untuk mendeteksi sel kanker pada stadium awal kanker ganas ketika sel kanker dalam darah masih sedikit dan dapat tidak terdeteksi pada pemeriksaan biasa.

Pada sebagian besar kasus, prosedur ini hanya dilakukan sekali. Akan tetapi, bila pemeriksaan ini digunakan untuk memantau kondisi medis tertentu seperti HIV, flow cytometry akan dilakukan beberapa kali secara berkala. Sebelum melakukan pemeriksaan ini, tanyakan kepada dokter terkait obat-obatan atau suplemen yang sedang dikonsumsi pasien. Beberapa jenis obat mungkin dapat mempengaruhi hasil tes. Beritahukan juga kepada dokter bila pasien sedang hamil, mungkin hamil, atau memiliki alergi terhadap obat-obatan atau bahan tertentu seperti lateks.

Tidak ada hal khusus yang perlu diperhatikan setelah prosedur flow cytometry yang dilakukan menggunakan sampel darah. Sementara bila sumsum tulang yang digunakan, pasien perlu menjaga perban tetap kering selama 24 jam. Pasien juga disarankan untuk tidak beraktivitas berat selama 1-2 hari paskaprosedur.