Obat

Apakah Benar Amlodipine Dapat Menyebabkan Kanker?

Obat amlodipine merupakan salah satu obat antihipertensi yang cukup populer dan banyak diresepkan untuk pasien yang mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi). Selama penggunaannya itu pula, tidak pernah ditemukan ada masalah serius yang ditimbulkan dari mengonsumsi obat ini. Selain itu pula, efek sampingnya pun dianggap relatif sedikit.

Adanya kabar tentang penarikan obat antihipertensi atau obat tekanan darah tinggi, amlodipine di Amerika Serikat dan Eropa karena meningkatkan peluang timbulnya kanker dalam tubuh. Hal tersebut cukup menghebohkan masyarakat di Indonesia. Akibat kejadian ini, BPOM RIĀ  pun mengeluarkan pers rilis untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Hal apa saja yang dapat kita ambil dan perlu diperhatikan dari kasus ini? Nah, artikel berikut ini akan merangkum semua informasi penting tentang

Amlodipine Menyebabkan Kanker?

Penarikan obat antihipertensi, ini bukanlah karena amlodipine, namun karena obat golongan angiotensin receptor blocker (ARB) yaitu valsartan yang terdapat dalam kombinasi obat tersebut. Selain valsartan ada 2 lagi obat golongan ARB yang ditarik dari peredaran, baik dalam bentuk obat tunggal atau kombinasi dengan obat lain, yaitu losartan dan irbesartan.

Hal yang menjadi kesamaan dari ketiga obat ini atau kombinasinya ditarik dari peredaran karena ditemukan zat pengotor seperti (NDMA), (NDEA), dan (NMBA). Zat-zat tersebut dipercaya dapat memicu sel kanker pada tubuh. Belum diketahui pasti apakah kontaminasi obat oleh zat-zat di atas adalah akibat proses pembuatannya di pabrik farmasi atau dari sumber lain.

Dengan adanya kasus ini, Badan FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat menganjurkan untuk penderita hipertensi agar:

  • Tetap mengkonsumsi obat yang sekarang dikonsumsi sampai dokter Anda menganjurkan alternatif lain.
  • Jangan panik dan merasa takut untuk mengonsumsi semua obat golongan ARB karena tidak semua obat golongan ARB termasuk valsartan, irbesartan dan losartan yang mengandung zat pengotor tersebut.
  • Jika kamu sedang mengkonsumsi obat yang mengandung ketiga obat tersebut, cobalah untuk membandingkan informasi pada kemasan obat dengan informasi yang tertera dalam daftar obat yang telah ditarik dari peredaran.
  • Jika obat yang dikonsumsi termasuk dalam daftar obat yang ditarik dari peredaran segera laporkan kepada dokter atau farmasi agar menggantinya dengan alternatif lain.

Selain itu, BPOM RI juga mengimbau pasien yang telah mengkonsumsi obat dengan kandungan bahan tersebut agar segera berkonsultasi dengan dokter atau petugas kesehatan.

Jadi untuk pertanyaan apakah amlodipine menyebabkan kanker? Jawabannya adalah tentu tidak, ya. Apabila ada anggota keluargamu yang diberikan resep amlodipine, tidak perlu khawatir berlebihan dan tetap berpegang pada anjuran resep dokter, ya.

Obat

Penggunaan dan Efek Samping Obat Timolol untuk Pengobatan Glaukoma

Glaukoma adalah gangguan pada mata disebabkan oleh tingginya tekanan pada mata bagian depan sehingga, dapat mengganggu penglihatan bahkan mengakibatkan kebutaan. Kondisi ini mengakibatkan syaraf penghubung antara mata dan otak rusak. Cara mengobati glaukoma, dapat dilakukan dengan beberapa metode, mulai dari penggunaan obat berbentuk tetes mata, prosedur sinar laser, sampai operasi mata. Masing-masing pengobatan memiliki risikonya tersendiri, seperti pada penggunaan obat timolol. Walaupun begitu, pengobatan dengan tetes mata seperti timolol sering kali menjadi pilihan bagi banyak pasien glaukoma.

Timolol merupakan obat golongan beta-blockers yang berguna untuk mengurangi tekanan pada mata. Cara kerja obat ini adalah dengan menurunkan atau menambah jumlah cairan yang diproduksi di dalam bola mata penderita. Penggunaan untuk dosis awal bagi orang dewasa adalah 1 tetes timolol 0.25% sebanyak dua kali sehari. Dosis tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan, seperti menambah dosis timolol 0.5% satu tetes untuk penggunaan 2x sehari. Khusus untuk timolol 0.5%, penggunaannya tidak boleh melebihi 1 tetes.

Adapun penggunaan obat tetes mata timolol yang benar:

  • mencuci tangan dengan air bersih, baik sebelum atau setelah meneteskan obat.
  • Jika Anda mengenakan lensa kontak, maka lepaskan terlebih dulu lensa kontak dan mengenakannya kembali minimal 15 menit setelah obat diteteskan.
  • Harap untuk mengadahkan kepala sebelum meneteskan obat kemudia memejamkan mata sesaat setelah obat diteteskan.
  • Selama mata tertutup, tekan bagian ujung mata dekat hidung selama 1-2 menit agar tetesan obat tidak keluar dari mata.
  • Jangan menyentuh ujung botol tempat keluar obat untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Ketika meneteskan obat, diharapkan ujung botol tidak mengenai mata.

Penggunaan glaukoma berpeluang menimbulkan beberapa efek samping, seperti kondisi mata yang terasa semakin kering jika sebelumnya terdapat masalah dengan produksi air mata.

Bersama dengan proses penuaan, produksi air mata juga tidak sebaik sebelumnya karena ada komponen minyak di dalam air mata yang berkurang. Akibatnya air mata lebih cepat menguap dan mata jadi lebih cepat kering. Reaksi lain yang mungkin akan timbul adalah rasa pedih seperti ada debu yang masuk pada mata. Walaupun begitu, kondisi ini dapat diatasi dengan meneteskan air mata artifisial beberapa kali sehari.

Selain efek samping pada mata, obat timolol juga dapat menyebabkan efek samping yang memengaruhi tubuh seperti tekanan darah rendah, denyut jantung melambat, nafas yang dirasa lebih pendek, dan cepat merasa lelah. Perlu diketahui bahwa efek samping obat timolol pada tiap orang akan berbeda-beda. Ada beberapa orang yang akan mengalami diare, insomnia, muntah-muntah, vertigo, hingga mengakibatkan gagal jantung kongestif.

Penting untuk diingat bahwa penggunaan obat timolol membutuhkan resep dokter dan penggunaannya harus dalam pengawasan dokter, ya.