Penyakit

Botulisme

Botulisme merupakan penyakit yang langka dimana gangguan tersebut terjadi karena adanya racun pada saraf yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium botulinum. Racun tersebut merupakan salah satu racun yang paling berbahaya bagi tubuh manusia dimana racun tersebut dapat menyerang sistem saraf otak dan sumsum tulang belakang. Hal tersebut bisa memicu kelumpuhan hingga kematian.

Seseorang yang mengalami botulisme akan mengalami gejala dalam waktu 6 hingga 10 hari setelah infeksi awal. Sebagian besar kasus botulisme pada bayi dan makanan terjadi antara 12 hingga 36 jam setelah mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Gejala

Bayi bisa mengalami gejala berupa gelisah, lelah, sembelit, mengeluarkan air liur secara berlebihan, kelopak mata menurun, merasa lemah ketika menangis, otot yang lemah, dan kelumpuhan.

Jika bayi mengalami botulisme karena makanan, maka bisa menimbulkan gejala berupa kesulitan menelan atau berbicara, kesulitan bernafas, penglihatan kabur, merasa lumpuh, kram perut, mual, dan muntah.

Jika gejala yang dialami tidak segera ditangani, maka kondisinya akan memburuk sehingga membuat otot-otot lumpuh.

Penyebab

Ada beberapa penyebab yang perlu diwaspadai. Penyebab botulisme adalah sebagai berikut:

  • Bakteri

Bakteri Clostridium botulinum merupakan jenis bakteri yang dapat memicu gangguan pada tubuh manusia. Bakteri tersebut dapat ditemukan pada tanah dan tempat lainnya.

Bakteri tersebut membentuk spora dan tumbuh sehingga mengeluarkan salah satu neurotoksin yang paling mematikan. Kondisi yang dapat membuat spora tumbuh adalah sebagai berikut:

  • Lingkungan dengan kadar oksigen rendah atau tidak ada oksigen sama sekali.
  • Kadar asam yang rendah.
  • Kadar gula yang rendah.
  • Makanan

Makanan yang terkontaminasi bakteri Clostridium botulinum dapat membuat seseorang terkena botulisme. Makanan yang terkontaminasi adalah makanan rumahan yang diawetkan, difermentasikan, atau dikalengkan dengan cara yang tidak benar. Makanan yang mengandung kadar asam rendah juga bisa berpotensi memicu hal yang sama. Makanan seperti ini dapat mengganggu fungsi saraf dan menyebabkan kelumpuhan.

  • Luka

Bakteri Clostridium botulinum juga bisa muncul pada luka akibat kecelakaan. Bakteri tersebut berkembang pada bagian luka dan menghasilkan racun.

Diagnosis

Untuk mendiagnosis botulisme, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda botulisme seperti kelemahan otot. Selain itu, dokter juga akan menanyakan kepada pasien jika mereka mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri Clostridium botulinum. Tes laboratorium juga perlu dilakukan untuk menganalisa darah atau sampel tinja pasien.

Pengobatan

Berikut adalah pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi botulisme:

  • Menggunakan suntikan antitoksin atau antibodi khusus untuk menetralkan racun.
  • Obat antibiotik.
  • Terapi jika pasien mengalami gangguan pada fungsi tubuh seperti berbicara.
  • Alat bantu pernafasan jika pasien mengalami kelumpuhan otot-otot pernafasan.

Pencegahan

Selain pengobatan, berikut adalah pencegahan yang dapat dilakukan pasien:

  • Menyimpan makanan dengan hati-hati agar tidak terkontaminasi.
  • Masak makanan dengan matang untuk membunuh bakteri.
  • Jangan mengkonsumsi makanan kaleng yang memiliki kualitas yang buruk seperti memiliki bau yang busuk.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda ingin berkonsultasi dengan dokter, Anda sebaiknya persiapkan diri dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Menulis gejala yang Anda atau anak Anda alami.
  • Mencatat obat yang Anda atau anak Anda konsumsi.
  • Membuat pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter.

Ketika berkonsultasi, dokter dapat menanyakan kepada Anda terkait dengan kondisi yang Anda atau anak Anda alami seperti:

  • Kapan gejala tersebut dialami?
  • Apakah gejala tersebut terjadi sekali atau secara berulang?
  • Apakah Anda atau anak Anda mengkonsumsi makanan kaleng?

Kesimpulan

Botulisme merupakan gangguan yang serius pada tubuh. Hal tersebut bisa memicu kematian. Untuk mengatasi masalah seperti ini, Anda sebaiknya ikuti anjuran yang disebutkan di atas. Untuk informasi lebih lanjut mengenai botulisme, Anda bisa tanyakan hal tersebut ke dokter.